LAPORAN PRATIKUM KIMA ANALITIK
MODUL PERCOBAAN
DISUSUN OLEH
1.
QUNTA
FADEL SYAMSUAR
2.
WAHYU
SAPUTRA
3.
MUHAMMAD
WARSA RIFKI
4.
OKTRIZA
LORA
LABORATORIUM PROSES
REAKSI KIMIA
PROGRAM STUDI
TEKNIK KIMIA BAHAN NABATI
POLITEKNIK ATI
PADANG
TP. 2015/2016
LEMBARAN PENGESAHAN
Kelompok : 1
Praktikum : Kimia Analitik
Modul Percobaan : Standarisasi Larutan Standar Sekunder NaoH dengan H2C2O4
Dosen Pembimbing : ADDIN AKBAR
Asisten : 1. Devani Adristi
2.
Farina Nuratika Harahap
No
|
Nama Praktikan
|
Buku Pokok
|
1.
|
OKTRIZA LORA
|
1512035
|
2.
|
QUNTA FADEL SYAMSUAR
|
1512001
|
3.
|
WAHYU SAPUTRA
|
1512032
|
4.
|
MUHAMMAD WARSA RIFKI
|
1512033
|
Catatan
|
Tanggal
|
Paraf Dosen Pembimbing
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
LEMBAR PENUGASAN
Kelompok : 1
Praktikum : Kimia Analitik
Tanggal Praktikum : 10 Maret 2016
Modul Percobaan : Standarisasi Larutan Standar Sekunder
NaoH dengan H2C2O4
Dosen Pembimbing : ADDIN AKBAR
Asisten : 1. Devani Adristi
2.
Farina Nuratika Harahap
No
|
Nama Praktikan
|
Buku Pokok
|
1.
|
OKTRIZA LORA
|
1512035
|
2.
|
QUNTA FADEL
SYAMSUAR
|
1512001
|
3.
|
WAHYU SAPUTRA
|
1512032
|
4.
|
MUHAMMAD WARSA
RIFKI
|
1512033
|
Penugasan;
Dalam pratikum kali ini kmi para pratikan
ditugaskan untuk
1. Menentukan volume NaoH terpakai !
2. N masa oksalat teliti ….!
3. Volume asam oksalat yang digunakan !
4. N NaoH yang tepat !
LEMBAR
PENGAMATAN
Kelompok : 1
Praktikum : Kimia Analitik
Tanggal Praktikum : 10 Maret 2016
Modul Percobaan : Standarisasi Larutan Standar Sekunder NaoH dengan H2C2O4
Dosen Pembimbing : ADDIN AKBAR
Asisten : 1. Devani Adristi
2.
Farina Nuratika Harahap
Metoda
|
Perc
|
V
NaOH terpakai
|
Keterangan
|
Lansung
|
1
|
10,2 ml
|
Masa
oksalat tertimbang = 0.3153 g
V
oks = 50 ml
|
2
|
9.85
ml
|
||
3
|
9.85 ml
|
||
Tidak
Lansung
|
1
|
24.3
|
Masa
oks tertim= 1.577 g
V oks =
25ml
|
2
|
25.5
|
Reaksi
C2H2O4.2 H2O +2 NaOH -> Na2C2O4 + 2 H2O
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam pratikum dilaboratorium kita akan
menentukan suatu proses yang disebut titrasi atau penetralan ataupun pembakuan..
Untuk pembakuan tersebut digunakan zat
baku yang disebut baku primer. Disamping itu, pembakuan juga dapat
dilakukan dengan cara menggunakan larutan yang sudah dibakukan (baku
sekunder).
Larutan baku primer adalah larutan yang
konsentrasinya dapat diketahui dengan cara penimbangan zat dengan seksama.
Contoh: NaCO3 anhdrat, Asam benzoate, Natrium chloride. Larutan baku sekunder
adalah larutan yang konsentrasinya dapat diketahui dengan cara dibakukan
terlebih dahulu.
Contoh: NaOH, NaNO2, H2SO4, Na2EDTA,
I2.
Percobaan pembuatan dan pembakuan
larutan ini sangat berperan penting dalam proses analisa volumetrik yang
merupakan analisis kuantitatif dengan mereaksikan suatu zat yang dianalisis
dengan larutan baku (standar) yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti,
dan reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan standar tersebut berlangsung
secara kuantitatif.
Dalam larutan analit (A) kita
menambahkan zat indikator yang berfungsi untuk menunjukkan bahwa telah terjadi
reaksi sempurna dari analit dengan pereaksi dengan adanya perubahan warna dari
indikator.
I . 2 Tujuan Praktikum
- Praktikan dapat memahami dan
menstandarisasi larutan baku sekunder NaOH dengan larutan baku primer.
2.
Dapat melakukan proses titrasi.
3. Dapat mengetahui volume titrasi yang
akan dibutuhkan dalm percobaan ini.
4. Dapat membuat larutan baku dari bahan
cair dengan konsentrasi tertentu.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 LarutanAsidi dan alkalimetri
Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam
dengan menggunakan larutan baku basa, sedangkan alkalimeteri adalah pengukuran
konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Oleh sebab itu, keduanya
disebut juga sebagai titrasi asam-basa.
Titrasi adalah proses mengukur volume larutan
yang terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui
volumenya sampai terjadi reaksi sempurna. Atau dengan perkataan lain untuk
mengukur volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen.
Titik
ekivalen adalah saat yang menunjukkan bahwa ekivalen perekasi-pereaksi sama. Di
dalam prakteknya titik ekivalen sukar diamati, karena hanya meruapakan titik
akhir teoritis atau titik akhir stoikometri. Hal ini diatasi dengan pemberian
indikator asam-basa yang membantu sehingga titik akhir titrasi dapat diketahui.
Titik akhir titrasi meruapakan keadaan di mana penambahan satu tetes zat
penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indikator (Anonim 2009).
Titrasi asidi-alkalimetri menyangkut reaksi
dengan asam kuat-basa kuat, asam kuat-basa lemah, asam lemah-basa kuat, asam
kuat-garam dari asam lemah, basa kuat-garam dari basa lemah. Titrasi ini
menggunakan indikator pH atau indikator asam-basa sebagai penanda karena
memiliki sifat dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Warna asam
ialah sebutan warna indikator ketika dalam keadaan asam dan warna basa ketika
dalam keadaan basa (Harjadi 1986).
Potensiometri yaitu pengukuran tunggal
terhadap potensial dari suatu aktivitas ion yang diamati, hal ini terutama
diterapkan dalam pengukuran pH larutan (Basset 1994).Proses potensiometri dapat
dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan elektroda pembanding yang
sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh dengan menggambarkan grafik
potensial terhadap volume titran yang ditambahkan, mempunyai kenaikan yang
tajam di sekitar titik kesetaraan. Dari grafik itu dapat diperkirakan titik
akhir titrasi. Cara potensiometri ini dapat digunakan bila tidak ada indikator
yang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan
keruh atau bila daerah kesetaran sangat pendek dan tidak cocok untuk penetapan
titik akhir titrasi dengan indikator (Rivai, 1995).
2.2 Analisatitrimetri atau analisa
volumetric
Adalah analisis kuantitatif dengan mereaksikan suatu zat
yang dianalisis dengan larutan baku (standar) yang
telah diketahui konsentrasinya secara teliti,
dan reaksi antara zat yang
dianalisis dan larutan standardtersebut berlangsung secara kuantitatif.
Larutan baku (standar) adalah larutan yang
telah diketahuikonsentrasinya secara teliti,
dan konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N
(normalitas) atau M (molaritas) (Shochichah,2010).
Larutan
standar biasanya kita teteskan dari suatu buret ke dalam suatu erlenmeyer yang
mengandung zat yang akan ditentukan kadarnya sampai reaksi selesai. Selesainya
suatu reaksi dapat dilihat karena terjadi perubahan warna Perubahan ini dapat
dihasilkan oleh larutan standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang
disebut indikator. Titik di mana terjadinya perubahan warna indikator ini
disebut titik akhir titrasi. Secara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama
dengan titik akhir teoritis (titik ekuivalen). Dalam prakteknya selalu terjadi
sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi (Sukmariah, 1990).
Untuk
analisis titrimetri atau volumetri lebih mudah kalau kita memakai sistem
ekivalen (larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekivalen dari
zat yang dititrasi = jumlah ekivalen zat penitrasi. Berat ekivalen suatu zat
sangat sukar dibuat definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Pada titrasi
asam basa, titik akhir titrasi ditentukan oleh indikator. Indikator asam basa
adalah asam atau basa organik yang mempunyai satu warna jika konsentrasi hidrogen
lebih tinggi daripada sutau harga tertentu dan suatu warna lain jika
konsentrasi itu lebih rendah (Sukmariah, 1990).
2.3 Indikator
Adalah zat yang
ditambahkan untuk menunjukkan titik akhir titrasi telah
di capai.Umumnya indikator
yang digunakan adalah indicator azo dengan warna yang
spesifik pada berbaga iperubahan pH.
2.4 TitikEkuivalen
Adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara stokiometri antara zat
yang dianalisis dan larutan standar. Titik akhir titrasi adalah titik dimana terjadi perubahan warna pada indikator
yang menunjukkan titikekuivalen reaksi antara zat yang dianalisis
dan larutan standar. Pada umumnya,titik ekuivalen lebih dahuludicapai lalu diteruskan dengan titik akhir titrasi. Ketelitian dalam penentuan titik akhir titrasi sangatmempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa
(Shochichah,2010).
2.5 Titik Akhir Titrasi
Titik dimana proses
titrasi diakhiri disebut sebagai, ditandai dengan indicator sehingga mudah
dilihat secara manual.
Jarak
antara titik equivalent dan titik akhir titrasi tidak boleh terlalu jauh
sehingga akan mempengaruhi hasil akhir titrasi.
2.6 Larutan baku primer
Adalah larutan baku yang
konsentrasinya dapat ditentukan dengan jalan menghitung dari berat zat terlarut
yang dilarutkan dengan tepat Contoh: H2C2O4, Na2C2O4, KBrO3, KIO3, NaCl, boraks, dan Na2CO3.
Larutan baku primer harus
dibuat dengan:
a)
Penimbangan dengan teliti menggunakan neraca analitik
b)
Dilarutkan dalam labu ukur
Persyaratan
standar primer
1. Kemurnian
tinggi (Pengotoran tidak melebihi
0,01 sampai 0,02 %)
2. Stabil
terhadap udara ( tidak higrokopis)
3. Bukan
kelompok hidrat
4. Tersedia
dengan mudah
5. Cukup
mudah larut
6. Berat
molekul cukup besar
Larutan
standar yang ideal untuk titrasi
·
Cukup stabil sehingga penentuan
konsentrasi cukup dilakukan sekali
·
Bereaksi cepat dengan analit sehingga
waktu titrasi dapat dipersingkat
·
Bereaksi sempurna dengan analit sehingga
titik akhir yang memuaskan dapat dicapai
·
Melangsungkan reaksi selektif dengan
analit
2.7 Larutan
baku sekunder
Zat baku sekunder
adalah zat baku yang konsentrasinya harus dibakukan dengan zat baku primer. Contoh: NaOH, KOH, KMnO4, HCl, H2SO4
Ada dua cara menstandarkan larutan yaitu:
1. Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni
dengan berat tertentu, kemudian diencerkan sampai memperoleh
volume tertentu secara tepat. Larutan ini disebut larutan standar primer, sedangkan zat yang kita gunakan disebut standar primer.
2. Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara
menimbang zatkemudian melarutkannya untuk memperoleh volum tertentu, tetapi
dapatdistandartkan dengan larutan standar primer, disebut larutan standar
skunder.
Suatu reaksi dapat digunakan sebagai dasar
analisis tirimetri apabila memenuhi persyaratan berikut :
1.
Reaksi
harus berlangsung cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam waktu yang
tidak terlalu lama.
2.
Reaksi
harus sederhana dan diketahui dengan pasti, sehingga didapat kesetaraan yang pasti dari reaktan.
3.
Reaksi
harus berlangsung secara sempurna.
4.
Mempunyai
massa ekuivalen yang besar
Larutan standar biasanya kita teteskan dari
suatu buret ke dalam suatu erlenmeyer yang mengandung zat yang akan ditentukan
kadarnya sampai reaksi selesai. Selesainya suatu reaksi dapat dilihat karena
terjadi perubahan warna
Perubahan ini dapat dihasilkan oleh larutan
standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang disebut indikator.
Titik di mana terjadinya perubahan warna indikator ini disebut titik akhir
titrasi. Secara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik akhir
teoritis (titik ekuivalen). Dalam prakteknya selalu terjadi sedikit perbedaan
yang disebut kesalahan titrasi (Sukmariah, 1990).
Untuk analisis titrimetri atau volumetri
lebih mudah kalau kita memakai sistem ekivalen (larutan normal) sebab pada
titik akhir titrasi jumlah ekivalen dari zat yang dititrasi = jumlah ekivalen zat
penitrasi.
Nama
|
Jangka pH dala mana
terjadiperubahan warna
|
Warna asam
|
Warna basa
|
Kuning metal
|
2 – 3
|
Merah
|
Kuning
|
Dinitrofenol
|
2,4 – 4,0
|
Tak berwarna
|
Kuning
|
Jingga metal
|
3 – 4,5
|
Merah
|
Kuning
|
Merah metal
|
4,4 – 6,6
|
Merah
|
Kuning
|
Lakmus
|
6 -8
|
Merah
|
Biru
|
Fenophtalein
|
8 – 10
|
Tak berwarna
|
Merah
|
Timolftalein
|
10 -12
|
Kuning
|
Ungu
|
Trinitrobenzena
|
12 -13
|
Tak berwarna
|
Jingga
|
Berat ekivalen suatu zat sangat sukar dibuat
definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Pada titrasi asam basa, titik
akhir titrasi ditentukan oleh indikator. Indikator asam basa adalah asam atau
basa organik yang mempunyai satu warna jika konsentrasi hidrogen lebih tinggi
daripada sutau harga tertentu dan suatu warna lain jika konsentrasi itu lebih
rendah
.Tabel 1.1 Indikator untuk asam dan basa
Perubahan warna indikator
Titrasi asam basa yaitu
sebagai berikut:
1. Titrasi asam kuat dengan basa kuat
2. Titrasi asam lemah dan basa kuat
Pada akhir titrasi terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat.
Misal : Asam asetat dengan NaOH
3. Titrasi basa lemah dan asam kuat
Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari
basa lemah dan asam kuat.
Misal
: NH4OH dan HCl
4. Titrasi asam lemah dan basa lemah
Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari
asam lemah dan basalemah. Misal : Asam asetat dan NH4OH
pH larutan
tergantung dari harga Ka dan Kb
Bila Ka > Kb larutan bersifat asam
Bila Kb < Ka larutan bersifat basa (Sukmariah, 1990).
Metode titrimetri dikenal juga sebagai
metode volumetric yaitu, merupakan metode analisis kuantitatif yang didasarkan
pada prinsip pengukuran volume.
MacamAnalisaVolumetri
1. Gasometri
Adalah volumetric gas dan yang diukur
(kuantitatif) adalah volume gas yang direaksikan atau hasil reaksinya
2.Titrimetri atauTitrasi
“Titrasi adalah suatu metode penentuan kadar
(konsentrasi) suatu larutan dengan larutan lain yang telah diketahui
konsentrasinya
Adalah pengukuran volume dalam larutan yang
diperlukan untuk bereaksi sempurna dengan sevolume atau sejumlah berat zat yang
akan ditentukan
Dalam setiap metode titrimetri selalu terjadi
reaksi kimia antara komponen analit
dengan zat pendeteksi yang disebut titran.
Reaksi dasar antara komponen analit dengan
titran dinyatakan dengan persamaan umum berikut ini:
Titran (dalamburet) ditambahkan kedalam
larutan analit (labuErlenmeyer) hingga tercapai titik ekivalen.
Larutan yang akan ditentukan kadarnya disebut
sebagai “analit” dan biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan larutan
yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “larutan standart atau
titer” dan diletakkan di dalam buret.
JenisTitrasi
Berdasarkanjenisreaksinya,metodetitrimetridapatdibagimenjadi4golongan,yaitu:
·
asidi-alkalimetri,/Asam
Basa
·
engendapan
(Precipitasi)
·
oksidimetri,
Oxidasi/reduksi
·
kompleksometri,
Pembentukan kompleks
Dalam menetapkan kuantitas komponen
analit lebih banyak digunakan satuan ekivalen (ek) dibandingkan satuan mol,
Untuk asidi-alkalimetri dan
oksidimetri.
Satu ekivalen asam atau basa menyatakan berat asam atau basa
tersebut dalam gram yang dibutuhkankan untuk
melepaskan
1 (satu) mol H+atau 1 mol OH-.
Untuk Titrasi Redoks
Satu ekivalen oksidator atau reduktor menyatakan
berat oksidator atau reduktor tersebut dalam gram yang dibutuhkankan untuk
menangkap atau melepaskan 1 (satu) mol elektron dalam peristiwa oksidasi-reduksi.
Reaksi-reaksi
|
Hubungan
mol dgn ek
|
|
1 mol = 1 ek
1 mol = 2 ek
1 mol = 1 ek
1 mol = 2 ek
1 mol = 2 ek
1 mol = 1 ek
1 mot = 5 ek
1 mol = 3 ek
|
BAB
III
METODOLOGI
PERCOBAAN
1. Botol timbang =tempet menimbang bahan kimia
berbentuk cairan
2. Pipet gondok =mengukur volume larutan secara
teliti
3. Pipet takar =mengabil larutan volume tertentu
4. Buret = alat untuk titrasi
5. Erlenmeyer = wadah dalam proses titrasi
6. Batabg pengaduk = untuk mengaduk larutan
7. Gelas piala = wadah tempat menyimpan dan
wadah larutan
8. Labu ukur = tempat membuat larutan dengan
teliti
9. Statif
= penegak alat titrasi ( buret )
III.2 Bahan
1. NaoH = larutan baku sekunder
2. Asam oksalat
= larutan baku primer
3. Aquades = pelarut
4. Indicator fenol phatalein = digunakan saat
melakukan titrasi pada larutan
III.3
Prosedur Percobaan
Pembuatan larutan standar asam oksalat (cara I)
1. Ditimbang
dengan teliti menggunakan neraca analitik, kurang lebih 0,630 gram asam oksalat
(COOH)2.
2. Dilarutkan
dengan sedikit aquades (10 ml) secara kuantitatif, panaskan bila perlu dalam
penangas air.
3. Setelah
larutan dingin, dimasukkan ke dalam Labu ukur 100 ml, melalui corong. Kemudian
encerkan larutan di dalam Labu ukur sampai tanda batas.
Selanjutnya hitung
konsentrasi dari larutan asam oksalat
Pembuatan larutan standar asam oksalat
Timbang ± 0…. Asam oksalat (COOH)2.2 H2O
di dalam neraca analitik
Larutkan dengan aquades
|
konsentrasinya
Standarisasi NaoH
Masukan kedalam erlenmeyer bilas dengan sedikit
aquades
+ indikator
isi buret dengan larutan NaoH
nol
kan volume buret dan keringkan dinding atas nya lakukan
titrasi
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
IV. 1 Hasil
Dari percobaan yang telah dilakukan di dapat
hasil sebagai berikut :
perc
|
Metode
|
V
NaOH
|
V
H2C204
|
[
] NaOH
|
[
] H2C2O4
|
1
|
Lansung
|
10.2
ml
|
50
ml
|
0.4902
N
|
0.1
N
|
2
|
9.85
ml
|
50
ml
|
0.5076
N
|
0.1
N
|
|
3
|
9.85
ml
|
50
ml
|
0.5076
N
|
0.1
N
|
|
1
|
Tidak
Lansung
|
24.3
ml
|
25
ml
|
0.1029
N
|
0.1
N
|
2
|
25.5
ml
|
25
ml
|
0.0980
N
|
0.1
N
|
IV.2
Pembahasan
Pada percobaan kali ini larutan yang digunakan sebagai
larutan baku primer adalah H2C2O4.
2H2O (asam oksalat). Asam oksalat adalah zat padat , halus,
putih, larut baik dalam air. Asam oksalat adalah asam divalent dan pada
titrasinya selalu sampai terbentuk garam normalnya. berat ekivalen asam oksalat
adalah 63. Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang konsentrasinya harus
ditentukan dengan cara titrasi terhadap larutan baku primer.
Pada percobaan kali ini larutan yang digunakan sebagai
larutan baku sekunder adalah NaOH. Larutan NaOH tergolong dalam larutan baku
sekunder yang bersifat basa. Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai
soda kaustik, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida membentuk
larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Natrium hidroksida
murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran
ataupun larutan jenuh 50%. NaOH bersifat lembab cair dan secara spontan
menyerap karbondioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan
melepaskan panas ketika dilarutkan. NaOH juga larut dalam etanol dan metanol,
walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil dari pada kelarutan
KOH. NaOH tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non polar lainnya.
Perubahan
warna yang terjadi pada Titik akhir titrasi adalah ”pink seulas”. Hal ini
disebabkan karena pada titrasi ini kita menggunakan indikator PP, sebab
indikator inilah yang cocok dengan titrasi penetralan karena Trayek PH nya
adalah 8,3 – 10
Pada
saat standarisasi NaOH mungkin saja terjadi kesalahan baik dalam menentukn
titik akhir maupun dalam penimbangan sampel sehingga hal itu dapat mempengaruhi
hasil dan keakuratan yang di peroleh. Dari pratikum yang dilakukan metode tidak
lansung adalah metode yang sederhana namun metode lansung hasil yang
didapat lebih efektif terhadap V NaOH .
BAB V
PENUTUP
V.1
Kesimpulan
Dari
pratikum ini kita telah mengetahui prinsip dari titrasi penetralan (asam-basa),
sehingga kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Warna
titik akhir titrasi penetralan adalah “pink seulas”.
2. Konsentrasi
tepat dari larutan baku skunder NaOH adalah 0.4902N.
3. Indikator
yang tepat digunakan adalah Indikator PP.
Jadi dari pratikum
ini kita telah dapat menentukan
konsentrasi tepat dari larutan baku skunder NaOH dengan cara titrasi
menggunakan larutan baku primer yaitu asam oksalat.
V.2
Saran
Jika
perbedaan pembacaan volume titrasi pertama
dan kedua lebih besardari 0,5 ml, ulangi titrasi sekali lagi sampai
perbedaan tidak begitu jauh.
PERTANYAAN DAN JAWABAN
1. Mengapa
penimbangan NaOH tidak perlu dilakukan dengan menggunakan Neraca analitik ?
Jawab
: karena
NaOH termasuk pada salah satu contoh dari larutan baku sekunder yang
konsentrasi tepatnya akan diketahui apabila dilakukanpembakuan terlebh dahulu
dengan larutan baku primer.
2. Jelaskan
bagaimana anda melakukan, bila anda diminta membuat 100 ml larutan yang
konsentrasinya 0,05 N dari larutan induk dengan konsentrasi 0,1 N. Dan jelaskan
mengapa buret atau pipet takar yang akan digunakan untuk mengukur volume
larutan harus dibilas terlebih dahulu dengan larutan yang akan digunakan ?
Jawab
:
Dari soal telah
diketahui : V1 = 100 ml
N1
= 0.05 N
N2 = 0.1 N
Maka perlu dicari V2
terlebih dahulu, memakai rumus pengenceran :
V1
* N1 = V2 * N2
100 ml. 0.05
N = V2 * 0.1 N
5 N.ml = V2
* 0.1 N
V2
= 50 ml
Setelah diperoleh V2,
Maka dipipet larutan tersebut sebanyak 50 ml, dan masukkan ke dalam gelas ukur
100 ml, kemudian encerkan larutan sampai tanda batas.
·
Alasan kenapa
buretharus dicuci dengan larutan NaOH terlebih dahulu agar larutan NaOH yang
akan dilakukan standarisasi tidak terkontaminasi nantinya oleh zat lain yang
dapat mempengaruhi konsentrasi dari NaOH, sehingga hasil yang diperoleh akan
akurat
LAMPIRAN
Perhitungan
Pembuatan larutan Oksalat
Standarisasi NaOH dengan Oksalat
A. Metoda
lansung
Percobaan I :
Percobaan II :
Percobaan III :
B.
Metoda
tidak lansung
Percobaan I
:
Percobaan II
:
DAFTAR PUSTAKA
Day, R.A, Jr. 1998. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi 6. Jakarta : Erlangga.
Elizarni, 2015. Modul Penuntun Praktikum Kimia Analitik. Padang : Prodi Teknik
Kimia ATIP.
Petrucci, Ralph. 1992. Kimia Dasar, Prinsip dan Terapan Modern.
Jakarta :
Erlangga.
Pratama, Anggi. 2003. Aplikasi Labview sebagai Pengukur Kadar Vitamin
C
dalam Larutan. Jakarta : Erlangga.
No comments:
Post a Comment
jangan lupa koment di kolom komentar ya !!!
saran, kritik,pertanyaan dan pendapat