MODUL PERCOBAAN :
ADSORPSI
KELOMPOK : III
1. OKTRIZA LORA
2.
M. TOYYIB
3. FALDA FABERDIANSYAH
LABORATORIUM PROSES INDUSTRI KIMIA
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA BAHAN NABATI
POLITEKNIK ATI PADANG
TP. 2015/2016
LEMBARAN PENGESAHAN
Kelompok : III
Praktikum : Kimia Fisika
Modul percobaan
:
Adsorpsi
Dosen
pembimbing : Elda Pelita
Asisten : 1. Hermansyah siregar
2. Suci Wulandari
No
|
Nama Praktikan
|
Buku Pokok
|
Keterangan
|
1.
|
Falda Faberdiansyah
|
1512027
|
|
2.
|
M.toyyib
|
15120
|
|
3.
|
Oktriza lora
|
151203
|
|
4.
|
|
|
|
5.
|
|
|
|
Catatan
|
Tanggal
|
Paraf Dosen
Pembimbing
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
LEMBAR PENUGASAN
Kelompok : III
Praktikum : Kimia Fisika
Modul percobaan
:
Adsorbsi
Dosen
pembimbing : Addin Akbar
Asisten : 1.Hermansyah Siregar
2. Suci Wulandari
No
|
Nama Praktikan
|
Buku Pokok
|
|
1.
|
Falda Faberdiansyah
|
1512027
|
|
2.
|
M.toyyib
|
15120
|
|
3.
|
Oktriza lora
|
15120
|
|
4.
|
|
|
|
5.
|
|
|
|
|
LEMBAR DATA PENGAMATAN
Kelompok : III
Praktikum : Kimia Fisika
Modul percobaan
:
Adsorpsi
Tanggal
praktikum :
Dosen
pembimbing : Elda Pelita
Asisten : 1. Hermansyah Siregar
|
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini,sistem
pennjernihan dalam menyisihkan kandungan warna maupun organik demi mendapatkan
suatu zat yang diinginkan memiliki beberapa macam teknik. Sistem pengolahan air
limbah industri tekstil yang banyak ditujukan untuk menghilangkan warna dan
yang umum digunakan adalah koagulasi-flokulasi. Proses biologi umumnya
menggunakan proses lumpur aktif atau biofilter yang merupakan pengolahan
lanjutan dengan tujuan untuk menurunkan kandungan organik lainnya. Kekurangan
proses koagulasi-flokulasi adalah konsumsi bahan kimia yang tinggi dan
menghasilkan lumpur kimia.
Alternatif pengganti
untuk proses koagulasi-flokulasi adalah proses adsorpsi dengan menggunakan
karbon aktif. Proses adsorpsi oleh karbon aktif terbukti memberikan hasil yang
baik dalam menyisihkan kandungan warna maupun organik, namun biaya menjadi
sangat mahal untuk mengganti karbon aktif yang jenuh. Untuk mengurangi biaya
yang dibutuhkan dilakukan modifikasi proses dengan menggunakan sistem kombinasi
fisik dan biologi, yaitu dengan memasukkan karbon aktif ke tangki aerasi lumpur
aktif. Pemakaian karbon aktif dalam tangki aerasi lumpur aktif menghasilkan
efisiensi pengolahan yang lebih baik dan biaya yang lebih ekonomis dibandingkan
proses koagulasi-flokulasi dan proses adsorpsi denga karbon aktif.
Meningkatnya efisiensi penyisihan zat warna
dan organik lainnya serta rendahnya biaya pada sistem ini adalah karena
berkurangnya pemakaian karbon mikroorganisme. Walaupun demikian sampai saat ini
mekanisme bioregenerasi tersebut masih belum dapat diungkapkan dengan jelas.
Dengan latar belakang operasi yang diuraikan diatas, untuk lebih mengetahui
tentang adsorpsi zat warna oleh karbon aktif secara lebih mendalam, maka dilakukanlah
percobaan ini.
1.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan
dari percobaan ini adalah :
1. Menentukan
model adsorpsi yang sesuai untuk adsorpsi rhodamin B oleh karbon aktif.
2. Menentukan
kapasitas adsorpsi dari adsorpsi rhodamin B oleh karbon aktif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.I Pengertian adsorpsi
Adsorpsi atau penyerapan
adalah pembentukan
lapisan gas pada permukaan padatan atau kadang-kadang cairan. Dalam proses
adsorpsi ada zat yang terserap pada suatu permukaan zat lain yang disebut
adsorbat, sedangkan zat yang permukaannya dapat menyerap zat lain disebut
adsorben. Adsorpsi atau penyerapan berbeda dengan absorpsi atau penyerapan,
sebab pada proses absorpsi zat yang terserap menembus ke dalam zat penyerap.
Secara kimia absorpsi adalah masuknya gas ke dalam padatan atau lareutan, atau
masuknya cairan ke dalam padatan. Sedangkan secara fisika, absorpsi adalah
perubahan energi radiasi elektromagnetik, bunyi, berkas partikel, dan lain-lain
ke dalam bentuk energi lain jika dilewatkan pada suatu medium. Bila foton
diserap akan terjadi suatu peralihan ke keadan tereksitasi (Daintith, 1994).
Molekul dan atom dapat
menempel pada permukaan dengan dua cara. Dalam fisisorpsi (kependekan dari
adsorpsi fisika), terdapat interaksi van der Waals antar adsorpat dan substrat.
Antaraksi van der Waals mempunyai jarak jauh, tetapi lemah, dan energi yang
dilepaskan jika partikel terfisiorpsi mempunyai orde besaran yang sama dengan
entalpi kondensasi. Kuantitas energi sekecil ini dapat diadsorpsi sebagai
vibrasi kisi dan dihilangkan sebagai gerakan termal. Molekul yang melambung
pada permukaan seperti batuan itu akan kehilangan energinya perlahan-lahan dan
akhirnya teradsorpsi padapermukaan itu, dalam proses yang disebut akomodasi.
Entalpi fisorpsi dapat diukur dengan mencatat kenaikan temperatur sampel dengan
kapasitas kalor yang diketahui, dan nilai khasnya berada di sekitar 20 kJ mol-1.
Perubahan entalpi yang kecil ini tidak cukup untuk menghasilkan pemutusan
ikatan, sehingga molekul yang terfisisorpsi tetap mempertahankan identitasnya,
walaupun molekul itu dapat terdistorsi dengan adanya penukaran (Atkins, 1997).
Reaksi heterogen yang penting adalah reaksi
pada permukaan katalisator, seperti:
a. Proses kontak pada pembuatan H2SO4
b. Proses Haber pada pembuatan NH3
c. Oksidasi NH3 pada
pembuatan HNO3
d. Pembuatan metanol, dan sebagainya
Katalis heterogen biasanya
bergantung sekurang-kurangnya pada satu reaktan yang teradsorpsi dan
dimodifikasi menjadi bentuk yang dapat langsung bereaksi. Seringkali modifikasi
ini berupa fragmentasi molekul reaktan. Reaksi pada proses tersebut terjadi
pada permukaan katalisator (Sukardjo, 1985).
Tingkat penutupan permukaan biasanya
dinyatakan sebagai penututpan terfraksi (θ)
Laju adsorpsi θ merupakan laju perubahan
penutupan permukaan, dan dapat ditentukan dengan mengamati perubahan penutupan
yang terfraksi terhadap waktu (Atkins,1997).
Diantara teknik utama untuk mengukur θ,adalah
metode aliran. Dalam metode ini, sampelitu sendiri sebagai pompa, karena
adsorpsi menghilangkan partikel dari gas. Oleh karena itu, salah satu teknik
yang bisa digunakan adalah memonitori laju aliran gas yang masuk dan keluar
sistem, dimana selisihnya merupakan laju pengambilan gas oleh sampel. Integrasi
laju ini menghasilkan penutupan terfraksi pada setiap tahap. Dalam desorpsi
kilat, sampel kita tiba-tiba dipanaskan (dengan listrik) dan kenaikan tekanan
yang ditimbulkannya ditafsirkan berkenaan dengan kuantitas yang asalnya
terdapat pada sampel. Penafsiran ini dapat dikelirukan dengan desorpsi senyawa
(Atkins, 1997).
Adsorpsi adalah pengumpulan
zat terlarut dipermukaan media dan merupakan jenis adhesi yang terjadi pada zat
padat atau cair yang kontak dengan zat-zat lainnya. Ada sejumlah hal yang
mempengaruhi efektifitas adsorpsi yakni salah satunya adalah jenis adsorban. Salah
satu adsorban yang yang biasa diterapkan dalam pengolahan air minum adalah
karbon aktif. Arang ini digunakan untuk menghilangkan bau, warna dan rasa air
termasuk logam-logam ion berat (Cahyana, 2009).
Karbon
aktif, atau sering juga disebut sebagai arang aktif, adalah suatu jenis karbon
yang memiliki luas permukaan yang sangat besar. Hal ini bisa dicapai dengan
mengaktifkan karbon atau arang tersebut, hanya dengan satu gram karbon aktif,
akan didapatkan suatu material yang memiliki permukaan sebesar 500m2.
Biasanya pengaktifan hanya bertujuan untuk memperbesar luas permukaan saja,
namun beberapa usaha juga berkaitan dengan meningkatkan kemampuan adsorpsi
karbon aktif itu sendiri (Anonim, 2009).
Adsorpsi adalah
salah satu dari sifat koloid yang merupakan proses penyerapan suatu partikel
zat baik berupa ion, atom, atau molekul pada permukaan zat lain. Adsorpsi
terjadi karena adanya gaya tarik yang tidak seimbang pada partikel zat yang
berada pada permukaan absorben.
Dalam sistem koloid, partikel-partikel fase terdispersi tersebar merata
dalam medium pendispersinya sebagai molekul-molekul yang sangat halus. Setiap
partikel-pertikel koloid mempunyai permukaan yang berbatasan dengan mediumnya.
Permukaan partikel ini mempunyai kemampuan adsorpsi sangat besar.
Apabila partikel koloid mengadsorpsi ion-ion yang ada
di dalam medium pendispersi, maka partikel-partikel koloid menjadi bermuatan
listrik. Adsorpsi mengakibatkan partikel-partikel koloid menjadi bermuatan
sejenis. Oleh karena itu, partikel-partikel koloid saling berjauhan sehingga
tidak terjadi penggumpalan. Hal inilah yang membuat kolid stabil.
Contoh Adsorpsi koloid yang paling sederhana adalah yang
terjadi pada koloid Fe(OH)3 dan As2S3. Koloid
Fe(OH)3 dalam air akan menyerap ion H+ sehingga bermuatan
positif. Sedangkan Koloid As2S3 akan bermuatan negatif
karena permukaannya dapat menyerap ion S2.
Perbedaan
Adsorpsi dan Absorpsi
Pada Adsorpsi daya
serap koloid hanya pada permukaannya saja tetapi pada Absorpsi
penyerapan terjadi hingga ke bagian dalam dibawah permukaan suatu zat. Intinya,
Adsorpsi di definisikan sebagai penyerapan partikel di permukaan suatu
zat, sedangkan Absorpsi di definisikan sebagai penyerapan partikel sampai ke
bawah permukaan suatu zat.
Adsorpsi
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia.
1.
Adsorpsi fisika (gaya Van der Waals)
Apabila
daya tarik menarik antara zat terlarut dengan adsorben lebih besar dari daya
tarik menarik antara zat terlarut dengan pelarutnya, maka zat yang terlarut
akan diadsorpsi pada permukaan adsorben. Adsorpsi ini mirip dengan proses
kondensasi dan biasanya terjadi pada temperatur rendah pada proses ini gaya
yang menahan molekul fluida pada permukaan solid relatif lemah, dan besarnya
sama dengan gaya kohesi molekul pada fase cair (gaya van der waals) mempunyai
derajat yang sama dengan panas kondensasi dari gas menjadi cair, yaitu sekitar
2.19-21.9 kg/mol. Keseimbangan antara permukaan solid dengan molekul fluida
biasanya cepat tercapai dan bersifat reversibel.
2.
Adsorpsi Kimia
Reaksi
yang terjadi antara zat padat dengan zat terlarut yang teradsorpsi. Adsorpsi
ini bersifat spesifik dan melibatkan gaya yang jauh lebih besar daripada
Adsorpsi fisika. Panas yang dilibatkan adalah sama dengan panas reaksi
kimia. Menurut Langmuir, molekul
teradsorpsi ditahan pada permukaan oleh gaya valensi yang tipenya sama dengan
yang terjadi antara atom-atom dalam molekul. Karena adanya ikatan kimia maka
pada permukaan adsorbent akan terbentuk suatu lapisan atau layer, dimana
terbentuknya lapisan tersebut akan menghambat proses penyerapan selanjutnya oleh
batuan adsorbent sehingga efektifitasnya berkurang.
Adsorpsi
fisik dapat dibedakan dari adsorpsi kimia, yaitu:



Faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap proses adsorpsi, diantaranya adalah :



§ Densitas
dan berat molekul
§ Ukuran
dan bentuk molekul
§ Tekanan
uap
§ Konsentrasi
§ Adanya
senyawa lain sebagai competitor
§ Polaritas
§ Reaktivitas
adsorbate


Jenis-jenis adsorbent
1. Karbon aktif
Merupakan arang yang diperoleh dari
carbinisation kayu, coconul shells, peat, fruit pits. Sebagai activating agent
digunakan zinc chlorida, magnesium chlorida, kalsium chlorida dan phosphoric
acid. Digunakan untuk control polusi, solvent recovery, mengurangi bau dan gas
purification.
2. Activated alumina
Activated alumina (hydrated
aluminium oxide) berasal dari native aluminas atau bauxite, berbentuk granular
atau pellet dengan tipical properties sebagaimana tabel 2. Umumnya digunakan
untuk drying gas.
3. Silica gel
Berasal dari netralisasi sodium
silikat kemudian gel dicuci untuk menghilangkan garam garam yang terbentuk
selama proses reaksi netralisasi dilanjutkan dengan proses pengeringan,
pemanasan dan grading.Umumnya berbentuk granular tetapi ada juga yang berbentuk
bead. Properties silica gel sebagaimana tabel 3. Terutama digunakan untuk
drying gas tetapi bisa juga untuk gas desulfurization dan purification.
3.
Molecular sievas
Berbentuk kristal dehydrated zeolit yang berasal
dari aluminosilicate gel dengan typical properties .
Secara
garis besar, mekanisme proses adsorpsi dapat berlangsung berdasarkan tahapan
sebagai berikut :




Aplikasi
adsorpsi
1. Proses
pewarnaan pada industri tekstil dengan larutan basa.
2. Proses
pemisahan mineral logam dari bijihnya pada industri logam.
3. Penjernihan
air tebu pada proses pembuatan gula pasir, menggunakan tanah diatome atau arang
tulang.
4.
Proses penyembuhan sakit perut karena bakteri patogen, menggunakan norit atau
serbuk karbon.
5.
Penjernihan air dengan karbon aktif pada proses pengolahan air minum yang dapat
mengadsorpsi warna, rasa dan warna.
Tipe
sistem adsorpsi
1. Fixed or stationary bed
·
Terdiri dari satu atau dua adsorbent (1=on stream
adsorbing, 2= regeneration).
·
Dual adsorber system dapat dioperasikan secara
simultan
·
Kedalaman bed 12 –36 inchi

2. Moving bed
·
Continuous regeneration
·
Waktu regenerasi untuk setiap segmen bed pendek
sehingga tidak memerlukan bed yang panjang
·
Compac system dan mampu reduce pressure drop
·
Kerugian maintaining seal pada moving parts

3.Fluidizedbed
·
Resirkulasi kontinyu melalu iadsorption –
regeneration cycle.
·
Velocity udara sekitar 240 fpm.
·
Countercurrent movement meningkatkan efektivitas
penggunaan karbon, lebih banyak solvent yang dapat direcovery dibandingkan
dengan stationary atau rotary bed sistem

Model
persamaan dari adsorpsi
1.
Model Dari Langmuir
v
Model dari Langmuir pertama kali dikembangkan
pada tahun 1918 yaitu untuk proses penyerapan gas pada permukaan solid.
v
Model langmuir diambil berdasarkan asumsi-asumsi
sebagai berikut :
·
Energi dari adsorpsi adalah konstan dan tidak
tergantung pada sifat permukaan.
·
Adsorpsi terjadi hanya pada bagian yang terbatas
dan tidak ada interaksi antara molekul-molekul adsorbat.
·
Adsorpsi terjadi maksimum pada saat terbentuk
monolayer yang menyeluruh.
·
Permukaan bersifat heterogenous, afinitas pada
tiap tempat terjadinya ikatan adalah sama.
v
Untuk sistem solid –gas, persamaan Langmuir bisa
dituliskan sebagai :

1+kce
qc
= jumlah dari adsorbet yang diserap persatuan berat adsorbent.
Qo: adsorpsi maksimum.
Ce: konsentrasi akhir pada saat keseimbangan
k = ka / kd adalah konstanta untuk proses penguapan dan kondensasi.
Qo: adsorpsi maksimum.
Ce: konsentrasi akhir pada saat keseimbangan
k = ka / kd adalah konstanta untuk proses penguapan dan kondensasi.
2. Model Dari Freundlich
·
Persamaan Freundlich sangat tepat dipergunakan
untuk adsorpsi secara fisik. Persamaan
Freundlich sangat tepat dipergunakan bila :
ü
Tidak ada assosiasi atau dissosiasi dari molekul
setelah teradsorp pada permukaan adsorbent.
ü
Tidak terjadi adsorpsi kimia.
·
Persamaan Freundlich dinyatakan sebagai berikut
:
qc
= kf ce ¹/n
atau
log
qc = log kf + 1/n log ce
qc
: banyaknya adsorbat yang diserap oleh adsorbent, atau

n
n:
konstanta
Ce:
konsentrasi akhir pada saat kesetimbangan tercapai
1.Model
mathematic Langmuir Isotherm
Teori ini berdasarkan pada asumsi bahwa :
·
Phase adsorbed adalah unimolecular layer
·
Pada kondisi equilibrium, rate adsorption sama
dengan rate desorption dari permukaan media
Rate
adsorpsion : ra = ca p (1-f)
p=tekanan partial
Ca=konstanta adsorbsi
f=fraksi total solid surface dengan adsorbate molecule
Ca=konstanta adsorbsi
f=fraksi total solid surface dengan adsorbate molecule
rate
desorpsion : rd = cd f
Pada saat equilibrium, maka rate adsorption = rate
desorption,
sehingga f menjadi :
f = ca p*
cd + c a p*
sehingga f menjadi :

cd + c a p*
Karena adsorbed phase adalah unimolecular layer maka
massa adsorbate per unit massa adsorbent (m) sebanding dengan permukaan media
yang tertutupi.
m
= cm f
sehingga dengan menggabungkan dua persamaan diatas


k2 p* + 1
dimana : k1=CaCm/Cd dan k2=Ca/Cd
Pada very low equilibrium maka tekanan partial k2p*=0 sehingga m=k1p*
Sedangkan pada high equilibrium m=k1/k2
Pada very low equilibrium maka tekanan partial k2p*=0 sehingga m=k1p*
Sedangkan pada high equilibrium m=k1/k2
2.
Model mathematic Freundlich Isotherm
Pada persamaan Langmuir isotherm di atas, apabila
pada kondisi intermediate maka

k=konstanta
n=konstanta dengan nilai antara 0–1
n=konstanta dengan nilai antara 0–1
Nilai k dan n merupakan nilai berdasarkan data
eksperime untuk dsorbates Calgon type BPL activated carbon (4x10mesh) dengan
nilai seperti tabel berikut ini;

3. Persamaan
lain
·
Service time : tb = ( A V/C0) (xst Lst + x2 L2)
A= Luas area bed adsorbent (ft2atau cm2)
V= Total gas volumetric flow rate (ft3/min atau L/min)
XSt= kapasitas adsorpsi per volume adsorbent bed dalam zona saturated (lb/ft3atau g/cm3)
Xz= Rata rata kapasitas adsorpsi per unit volume dalam zona adsorption (lb/ft3atau g/cm3)
V= Total gas volumetric flow rate (ft3/min atau L/min)
XSt= kapasitas adsorpsi per volume adsorbent bed dalam zona saturated (lb/ft3atau g/cm3)
Xz= Rata rata kapasitas adsorpsi per unit volume dalam zona adsorption (lb/ft3atau g/cm3)
BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini
adalah erlemeyer 250 mL, labu ukur 100 mL, labu
buret, corong Buchner, statif,
klem,
stirer magnetik, pipet tetes, kertas
saring ,pipet gondok, labu semprot, dan stopwatch.
III.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu
larutan asam asetat 1N.larutan NaOH
0,5N, karbon aktif dan Indikator pp.
III.3 Prosedur Percobaan
Pada saat pratikum ini,pertama dibuat larutan
masing-masing asam asetat dengan konsentrasi 1N, 0,8N , 0,6N ,0,4N , 0,2N, 0,1N.setelah
itu diambil 10ml tiap-tiap larutan ditambahkan beberapa tetes indicator pp dan
titrasi dengan NaOH 0,5N. sampai timbul warna ping. Catat ml NaOH yang terpakai
dan tentukan konsentrasi asam asetat tersebut.
Selanjutnya ambil
setiap larutan asam asetat 25ml,dan tambahkan masing-masing 1gram adsorben.aduk
dan tutup dengan aluminium foil beberapa saat.setelah itu disaring dan diambil
masing-masing filter 10ml kemudian tambahkan beberapa tetes indicator pp dan
titrasi dengan NaOH 0,5N sampai timbul warna pink yang tidak hilang oleh
pengocokan .catat ml NaOH yang terpakai.
IV. 3 SKEMA KERJA
Biarkan berkontak selama beberapa
menit sambil ditutup aluminium foil
![]() |
Dipipet filtrate 10 ml
dilakukan titrasi , lalu tentukan [ ] akhir
Disaring
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
Dari percobaan yang telah dilakukan
,didapatkan hasil sebagai berikut :
Percobaan
|
NaOH /oksalat
|
Titrasi awal
|
Titrasi akir
|
Penyerapan KAS oleh KA
|
1
|
NaOH tepat=0,4929N
|
60,04 mg
|
53,69 mg
|
6,37 mg
|
2
|
N NaOH= 20,0329N
|
209,90 mg
|
196,67 mg
|
53,31 mg
|
3
|
g oksalat= 1,575 gram
|
354,89 mg
|
340,10 mg
|
14,79 mg
|
4
|
N tepat oksalat= 1,575 gram
|
467,27 mg
|
482,06 mg
|
14,79 mg
|
IV.2 Pembahasan
Adsorpsi
adalah pengumpulan zat terlarut dipermukaan media dan merupakan jenis adhesi
yang terjadi pada zat padat atau cair yang kontak dengan zat-zat lainnya.
Karbon aktif, atau sering juga disebut sebagai arang aktif, adalah suatu jenis
karbon yang memiliki luas permukaan yang sangat besar. Hal ini bisa dicapai
dengan mengaktifkan karbon atau arang tersebut, hanya dengan satu gram karbon
aktif, akan didapatkan suatu material yang memiliki permukaan sebesar 500m2.
Biasanya pengaktifan hanya bertujuan untuk memperbesar luas permukaan saja,
namun beberapa usaha juga berkaitan dengan meningkatkan kemampuan adsorpsi
karbon aktif itu sendiri.
Percobaan ini digunakan karbon aktif sebagai
adsorban rodhamin B yang merupakan zat warna yang berfungsi sebagai adsorbat.
Rhodamin B yang digunakan adalah rhodamin B 100 ppm sebagai contoh dan rhodamin
B 10 ppm sebagai larutan standar yang berfungsi sebagai pembanding absorbansi
dari larutan contoh.
Karbon aktif yang telah ditimbang dibungkus
dengan aluminium foil agar karbon yang diperoleh tidak menyerap zat lain yang
dapat mempengaruhi perubahan massa dari zat tersebut. Contohnya kemampuan
karbon aktif untuk menyerap air karena bersifat hidroskopis.
Pengenceran rhodamin B agar diperoleh
konsentrasi yang berbeda-beda. Saat pengadukan erlenmeyer ditutup dengan
aluminium foil agar larutan tidak terpecik keluar erlenmeyer serta menghalangi
gangguan dari luar sehingga larutan tidak terkontaminasi oleh zat-zat yang
dapat mempengaruhi daya adsorpsi rodamii B oleh karbon aktif. Pengadukan
dilakukan selama 30 menit karena dianggap sebagai waktu yang cukup bagus untuk
adsorbsi larutan.Pengadukan larutan menggunakan stirer
magnetik agar pengadukan dilakukan pada saat yang bersamaan. Hal ini
dimaksudkan agar penyerapan warna dari larutan dengan konsentrasi berbeda
memerlukan waktu yang sama. Selain itu, pengadukan dengan stirer dilakukan
untuk efektifitas waktu.
Setelah
pengadukan selanjutnya dilakukan penyaringan dengan menggunakan corong Buchner
agar dapat mempercepat proses ppenyaringan sehingga tidak perlu didiamkan
selama satu jam seperti yang tertera pada prosedur sebelumnya. Larutan yang
diperoleh kemudian diukur absorbansinya dengan spektronik 20 D+. Proses
pengukuran dimulai dengan menggunakan larutan blanko dalam hal ini akuades
sebagai pelarut pada pengenceran. Pengukuran absorbansi larutan pada panjang
gelombang 590 nm. Setiap larutan yang akan diukur panjang gelombangnya harus
diawali dengan pengkalibrasian alat dengan blanko. Kuvet yang digunakan harus
tetap bersih dan kering sebelum dimasukkan ke dalam spektronik, dan tidak ada
bekas jari yang menempel diluar kuvet, karena akan berakibat kesalahan pembacaan
panjang gelombang. Larutan standar juga diukur absorbansinya agar hasil yang
diperoleh dapat dilihat kenaikan atau penurunan nilai absorbansinya.
Pada percobaan adsorpsi isotherm terdapat tujuan yaitu
menentukan adsorpsi menurut freundich.bagi proses adsorpsi asam asetat pada
arang,dimana yang dimaksud dengan adsorpsi merupakan penyerapan suatu zat pada
permukaan zat lain yang melibatkan interaksi fisik ,kimia,dan gaya
elektroforesis antara adsorben dan adsorbat pada permukaan adsorben. Yang
digunakan sebagai adsorben yaitu CH3COOH dan yang digunakan sebagai
adsorbat yaitu karbon aktif .
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari
percobaan ini adalah :
Dari percobaan yang telah dilakukan ,dapat disimpulkan bahwa percobaan
ini termasuk adsorbsi fisik,karena adanya gaya vander waals antara adsorben dan
adsorbat yang digunakan sehingga,proses adsorpsi hanya terjadi di permukaan
larutan.serta diketahui bahwa semakin besar jumlah zat larutan .serta diketahui
bahwa semakin besar jumlah zat larutan asam asetat yang tertutup dan
sebaliknya.
Dari hasil percobaan dapat kita lihat pengaruh konsentrasi asam
asetat,dimana ssemakin besar konsentrasi ,maka semakin banyak pula diperlukan
titrasi untuk mentitrasi volume asam asetat yang telah diadsorpsi.semakin besar
konsentrasi maka semakin besar juga kapasitas adsorpsi yang dibutuhkan untuk
menyerap zat.
5.2 Saran
Untuk percobaan
sebaiknya menggunakan asam lemah seperti asam asetat agar lebih aman(safety)
bagi pratikan.
DAFTAR PUSTAKA
.
Atkins, P. W., 1994, Kimia Fisika,
Erlangga, Jakarta.
Dainith, J., 1994, Kamus Lengkap
Kimia, Erlangga, Jakarta.
Sukardjo.,
1985, Kimia Fisika, Bina Aksara, Jakarta.
Basti,2003.kamus
lengkap kimia.rineka cipta:Jakarta
LAMPIRAN
1. Standarisasi
NaOH dengan asam oksalat
0,5
N (NaOH) gram = N.V.BE
= 0,5
. 1 L . 40 gr/mol

= 20 gram
Tertimbang = 20,0132 gram
gram
oksalat = N.V.BE
=
0,5 . 0,05 . 63
=
1,575 gram
Tertimbang = 1,6150 gram
N
tepat oksalat = 

=


=
0,5127 N
N
tepat NaOH = 

=


=
0,4929 N
V
rata-rata NaOH = 

=
10,40 ml
2. Titrasi
awal (berat CH3COOH)
V rata-rata =

= 2,35 ml
Mg awal =
N.BE.V
= 0,1001 . 10 . 60
= 60,44 mg
V terpakai NaOH = 

= 7,10 ml
Mg awal =
N.V.BE
= 0,349 . 10 . 60
= 709,98 mg
N CH3COOH = 

=
0,3499 N
V
terpakai = 

=


=
0,5915 N
Mg
= 0,5915 . 10 . 80
= 354,89 mg
V
terpakai = 15,80
N
CH3COOH = 0,7788 N
Mg = 467,279 mg
3. Titrasi
akhir CH3COOH
V NaOH rata-rata = 1,93 ml
N CH3COOH = 

= 0,0961 N
Mg
. 0,0961 N . 10 . 60 = 53,67 gram
V =
6,65 ml
N
CH3COOH =
= 0,3278 N

Mg = 0,3278 . 10 . 60 =
196,67 mg
V = 11,50 ml
N CH3COOH =
= 0,5668 N

Mg = 0,5668 . 10 . 60 =
340,10 mg
V = 16,30 ml
N CH3COOH =
= 0,8034 N

Mg = 0,8034 . 10 . 60 =
482,06 mg
Pengurangan
kadar CH3COOH
30 menit dengan karbonaktif

0,1 N = g awal – g akhir
= 60,04 mg – 53,67 mg
= 6,37 mg
0,3 N = 209,98 – 196,67
= 13,31 mg
0,5 N = 354,89 – 340,10
= 14,79 mg
0,7 N = 467,27 – 487,06
= -14,79 mg (titrasi gagal)
No comments:
Post a Comment
jangan lupa koment di kolom komentar ya !!!
saran, kritik,pertanyaan dan pendapat