LAPORAN PRATIKUM KIMA FISIKA
MODUL PERCOBAAN
Pemisahan Fraksi Dalam Proses
Destilasi
DISUSUN OLEH
1.
OKTRIZA
LORA
2.
MUHAMMAD
TOYIB
3.
FALDA
FABER DIASYAH
4.
RISKI
KARIMAH
PROGRAM
STUDI TEKNIK KIMIA BAHAN NABATI
POLITEKNIK
ATI PADANG
TP.
2015/2016
LEMBARAN
PENGESAHAN
Kelompok : III
Praktikum : Kimia Fisika
Modul Percobaan : Pemisahan Fraksi Dalam Proses
Destilasi
Dosen Pembimbing : ELDA
PELITA
Asisten : 1. Hermasyah siregar
5. Suci
wulandari
No
|
Nama Praktikan
|
Buku Pokok
|
1.
|
Oktriza lora
|
1512035
|
2.
|
Falda faber diansyah
|
1512027
|
3.
|
Muhammad toyyib
|
15120
|
4.
|
Rizki karimah
|
1512004
|
Catatan
|
Tanggal
|
Paraf Dosen
Pembimbing
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
LEMBAR
PENUGASAN
Kelompok : III
Praktikum : Kimia Fisika
Modul Percobaan : Pemisahan
Fraksi Dalam Proses Destilasi
Dosen Pembimbing : ELDA
PELITA
Asisten : 1. Hermasyah siregar
2. Suci wulandari
No
|
Nama Praktikan
|
Buku Pokok
|
1.
|
Oktriza lora
|
1512035
|
2.
|
Falda faber diansyah
|
1512027
|
3.
|
Muhammad toyyib
|
15120
|
4.
|
Rizki karimah
|
1512004
|
Penugasan;
Dalam melakukan
pratikum ini, kami kelompok 3 ditugaskan untuk :
1. Melakuakan pratikum dengan sampel CH3COOH
2. Malakukan
standarisasi larutan sekunder NaOH denagn larutan primer C2H2O4
3. Menentukan
V NaOH terpakai dalam titrasi CH3COOH
awal,destilat dan residu
4. Menentukan
konsentrasi dari CH3COOH awal, destilat dan residu
5. Menentukan
fraksi mol dari masing-masing sampel.
LEMBAR PENGAMATAN
Kelompok : III
Praktikum : Kimia Fisika
Modul Percobaan : Pemisahan Fraksi Dalam Proses
Destilasi
Dosen Pembimbing : ELDA
PELITA
Asisten : 1. Hermasyah siregar
2. Suci wulandari
0.5 NaOH à 200 ml BE = 40
0.5 N C2H2OH à
100 ml BE = 63
6 ml CH3COOH BE = 60
G NaOH =
4 gram G C2H2OH = 3.15 gram
( N . V ) C2H2O4 = (
N.V )NaOH
0.5 * 10
= N 10.95 ML
N NaOH = 0.46 N
|
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Distilasi pertama kali
ditemukan oleh kimiawan Yunani sekitar abad pertama masehi yang akhirnya
perkembangannya dipicu terutama oleh tingginya permintaan akan spritus.
Hypathia dari Alexandria dipercaya telah menemukan rangkaian alat untuk
distilasi dan Zosimus dari Alexandria-lah yang telah berhasil menggambarkan
secara akurat tentang proses distilasi pada sekitar abad ke-4 Bentuk modern
distilasi pertama kali ditemukan oleh ahli-ahli kimia Islam pada masa kekhalifahan Abbasiah, terutama
oleh Al-Razi pada pemisahan
alkohol menjadi
senyawa yang relatif murni melalui alat alembik, bahkan desain ini menjadi semacam inspirasi yang
memungkinkan rancangan distilasi skala mikro, The
Hickman Stillhead dapat terwujud. Tulisan
oleh Jabir
Ibnu Hayyan (721-815) yang lebih dikenal
dengan Ibnu
Jabir menyebutkan tentang uap anggur yang dapat terbakar, ia juga
telah menemukan banyak peralatan dan proses kimia yang bahkan masih banyak
dipakai sampai saat kini. Kemudian teknik penyulingan diuraikan dengan jelas
oleh Al-Kindi (801-873). Distilasi
atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia
berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan atau didefinisikan juga teknik pemisahan kimia yang
berdasarkan perbedaan titik didih. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan
sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk
cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih
rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini merupakan termasuk unit operasi kimia
jenis perpindahan
massa. Penerapan proses ini didasarkan
pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing
komponen akan menguap pada titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan
pada Hukum
Raoult dan Hukum Dalton.
I.2 Tujuan
a. Melatih pemakain alat distilasi
b. Membuktikan pemisahan fraksi mol larutan dalam proses
distilasi
c. Untuk mengetahui prinsip kerja dari distilasi
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Pembagian destilasi telah dibahas secara ringkas pada bab
sebelumnya. Namun dalam makalah ini akan dibahas lebih spesifik mengenai
Destilasi Sederhana. Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik
pemisahan kimia untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki
perbedaan titik didih yang jauh. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan
destilasi biasa ini untuk memperoleh senyawa murninya. Senyawa – senyawa yang
terdapat dalam campuran akan menguap pada saat mencapai titik didih masing –
masing.
Gambar 1. Alat Destilasi Sederhana
Gambar di atas
merupakan alat destilasi atau yang disebut destilator. Yang terdiri dari
thermometer, labu didih, steel head, pemanas, kondensor, dan labu penampung
destilat. Thermometer Biasanya digunakan untuk mengukur suhu
uap zat cair yang didestilasi selama proses destilasi berlangsung. Seringnya
thermometer yang digunakan harus memenuhi syarat:
a. Berskala suhu tinggi yang diatas titik didih zat cair yang akan didestilasi.
b. Ditempatkan pada labu destilasi atau steel head dengan ujung atas reservoir HE sejajar dengan pipa penyalur uap ke kondensor. Labu didih berfungsi sebagai tempat suatu campuran zat cair yang akan didestilasi .
a. Berskala suhu tinggi yang diatas titik didih zat cair yang akan didestilasi.
b. Ditempatkan pada labu destilasi atau steel head dengan ujung atas reservoir HE sejajar dengan pipa penyalur uap ke kondensor. Labu didih berfungsi sebagai tempat suatu campuran zat cair yang akan didestilasi .
Steel
head berfungsi sebagai penyalur uap atau gas yang akan masuk ke alat pendingin
( kondensor ) dan biasanya labu destilasi dengan leher yang berfungsi sebagai
steel head. Kondensor memiliki 2 celah, yaitu celah masuk dan celah keluar yang
berfungsi untuk aliran uap hasil reaksi dan untuk aliran air keran. Pendingin
yang digunakan biasanya adalah air yang dialirkan dari dasar pipa, tujuannya
adalah agar bagian dari dalam pipa lebih lama mengalami kontak dengan air
sehingga pendinginan lebih sempurna dan hasil yang diperoleh lebih sempurna.
Penampung destilat bisa berupa erlenmeyer, labu, ataupun tabung reaksi
tergantung pemakaiannya. Pemanasnya juga dapat menggunakan penangas, ataupun
mantel listrik yang biasanya sudah terpasang pada destilator.
Pemisahan senyawa dengan destilasi bergantung pada perbedaan tekanan uap
senyawa dalam campuran. Tekanan uap campuran diukur sebagai kecenderungan
molekul dalam permukaan cairan untuk berubah menjadi uap. Jika suhu dinaikkan,
tekanan uap cairan akan naik sampai tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap
atmosfer. Pada keadaan itu cairan akan mendidih. Suhu pada saat tekanan uap
cairan sama dengan tekanan uap atmosfer disebut titik didih. Cairan yang
mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu kamar akan mempnyai titik
didih lebih rendah daripada cairan yang tekanan uapnya rendah pada suhu kamar.
Jika campuran berair didihkan, komposisi
uap di atas cairan tidak sama dengan
komposisi pada cairan. Uap akan kaya dengan senyawa yang lebih volatile atau
komponen dengan titik didih lebih rendah. Jika uap di atas cairan terkumpul dan
dinginkan, uap akan terembunkan dan komposisinya sama dengan komposisi senyawa
yang terdapat pada uap yaitu dengan senyawa yang mempunyai titik didih lebih
rendah. Jika suhu relative tetap, maka destilat yang terkumpul akan mengandung
senyawa murni dari salah satu komponen dalam campuran.
Dalam diskusi yang lalu disinggung
mengenai bagaimana aplikasi dari destilasi sederhana ini. pada bab sebelumnya
dibahas bahwa aplikasi destilasi secara umum yaitu pada pengolahan minyak
mentah, namun itu dengan destilasi vakum atau fraksional. Destilasi sederhana
digunakan untuk pemurnian senyawa yang biasanya telah diekstraksi. Misalnya
ekstraksi padat-cair dan.pada sintesis kloroform. Pada dasarnya prinsip atau
metode pemisahannya sama. Sintesis koroform tanpa ekstraksi, dengan mereaksikan
kaporit dan aseton yang akan menghasilkan kloroform.
Mula – mula kaporit dihaluskan menggunakan lumpang
porselen dengan penambahan akuades sedikit demi sedikit. Hal ini bertujuan
untuk memperluas permukaan kaporit sehingga mudah bereaksi. Setelah halus
kaporit dituangkan ke dalam labu destilasi. Kemudian dimasukkan aquades ke
dalam penampung destilasi. Aquades berfungsi untuk mengurangi penguapan
destilat. Selanjutnya aseton dituang ke dalam corong pisah dan diencerkan
dengan aquades yang berfungsi sebagai media reaksi. Selanjutnya aseton
diteteskan ke dalam labu destilasi yang berisi kaporit. Dilanjutkan dengan
pemanasan pada suhu 60 ˚C. Campuran yang menguap mengandung kloroform dan air.
Uap ini mengalir melewati tabung kondensor dan mengembun. Embun ini mencair dan
mengalir ke dalam penampung destilat yang telah berisi aquades. Destilat
didinginkan di dalam baskom berisi es untuk mengurangi penguapan klorofom.
Klorofom yang masih mengandung air dipisahkan dengan penambahan NaOH dalam
corong pisah sehingga terbentuk lapisan dimana klorofom lapisan bawah karena
masa jenisnya lebih kecil. Kloroform selanjutnya diteteskan kedalam CaCl
anhidrat untuk mengikat air pada kloroform dan disaring.
Pada diskusi kemarin juga ditanyakan
mengapa hasil klorofom yang diperoleh sangat sedikit. Alasan pertama, pada dasarnya koloroform merupakan senyawa
yang volatile dengan titik didih yang rendah yaitu 60 ˚C oleh karenanya
pemanasan harus konstan dan dijaga. Bila melewati titik didihnya maka klorofom
akan habis menguap dan terlarut ke dalam larutannya. Yang kedua adalah pada
proses pemisahan pada corong pisah dimana klorofom belum semuanya turun ke
bawah sehingga ketika dipisahkan pun hasilnya sedikit.
Ditanyakan pula pada diskusi
tersebut mengenai perubahan fase tampak. Maksud dari fase tampak ialah perubahan
fase senyawa itu jelas. Yaitu kloroform atau senyawa lain yang kita inginkan
dalam suatu campuran dalam fase cair itu
menguap sehingga senyawa tersebut dalam fase gas kemudian terkondensasi menjadi
embun lalu menetes menjadi air ( fase cair kembali ).
Tekanan uap suatu cairan akan meningkat seiring dengan
bertambanya temperatur, dan titik dimana tekan uap sama dengan tekanan
eksternal cairan disebut sebagai titk didih. Proses pemisahan campuran cairan
biner A dan B menggunakan distilasi dapat dijelaskan dengan hukum Dalton dan
Raoult. Menurut hukum Dalton, tekanan gas total suatu campuran biner, atau
tekanan uap suatu cairan (P), adalah
jumlah tekanan parsial dari masing-masing komponen A dan B (PA dan PB)
P = PA
+ PB (1)
Hukum
Raoult menyatakan bahwa pada suhu dan
tekanan tertentu, tekanan parsial uap komponen A (PA) dalam campuran
sama dengan hasil kali antara tekanan uap komponen murni A (PAmurni)
dan fraksi molnya XA
PA = PAmurni . XA (2)
Sedang tekanan uap totalnya adalah
Ptot = PAmurni . XA
+ PBmurni . XB (3)
Dari persamaan tersebut di atas diketahui bahwa tekanan
uap total suatu campuran cairan biner tergantung pada tekanan uap komponen
murni dan fraksi molnya dalam campuran.
Hukum
Dalton dan Raoult merupakan pernyataan matematis yang dapat menggambarkan apa
yang terjadi selama distilasi, yaitu menggambarkan perubahan komposisi dan
tekanan pada cairan yang mendidih selama proses distilasi. Uap yang dihasilkan
selama mendidih akan memiliki komposisi yang berbeda dari komposisi cairan itu
sendiri. Komposisi uap komponen yang memiliki titik didih lebih rendah akan
lebih banyak (fraksi mol dan tekanan uapnya lebih besar). Komposisi uap dan
cairan terhadap suhu tersebut dapat digambarkan dalam suatu grafik diagram fasa
berikut ini.
Jika uap dipindahkan dari campuran cairan, maka pada
suatu waktu tertentu, komposisi campuran cairan akan berubah. Fraksi mol cairan
yang memiliki titik didih lebih tinggi akan meningkat di dalam campuran. Karena
komposisi campuran cairan berubah, maka titik didih akan berubah. Biasanya yang
diukur adalah suhu uap. Plot berbagai jenis kurva pemanasan ditunjukkan pada
grafik di bawah ini
Untuk memperoleh distilasi sederhana yang efektif
diperlukan suatu kurva seperti lurva C. Kita akan mengamati suhu uap yang
konstan, sangat dekat dengan titik didih cairan yang memiliki titik didih lebih
rendah. Jika suhu uap mulai naik dengan cepat, maka kita dapat menghentikan
pengumpulan distilat. Pada prakteknya, kebanyakan campuran sukar untuk
dimurnikan melalui satu distilasi sederhana.
Distilasi Fraksi
Distilasi
sederhana yang dilakukan hanya sekali biasanya tidak akan dapat memisahkan dua
cairan secara sempurna. Cairan yang berasal dari uap terkondensasi (distilat)
akan mengandung komponen dengan titik didih lebih rendah dengan proporsi yang
lebih besar, akan tetapi masih mengandung komponen yang memiliki titik didih
lebih tinggi di dalamnya.
Jika
distilat ini kita distilasi sekali lagi, maka komponen dengan titik didih rendah
akan makin banyak pada distilatnya. Demikian seterusmnya, hingga kita bisa
mendapatkan distilat yang hampir 100% mengandung komponen dengan titik didih
lebih rendah. Diagram fasa berikut ini menyatakan perubahan komposisi dari
multipel distilasi ini

Melakukan
multipel distilasi memerlukan banyak waktu dan kita akan kehilangan banyak
sampel karena cairan yang tertinggal di dalam labu. Untuk itu kita dapat
menggunakan alat yang disebut dengan kolom fraksi yang berfungsi untuk
meningkatkan efek multipel distilasi ini. Prosesnya disebut sebagai distilasi
fraksi. Fungsi kolom fraksi ditunjukkan pada diagram di bawah ini,
Saat uap
mencapai kolom, uap tersebut akan mengalami kondensasi dan membentuk cairan.
Cairan tersebut memiliki komposisi sama dengan uap darimana dia berasal dan
diperkaya dengan cairan dengan titik didih rendah. Cairan terkondensasi
tersebut akan ditahan pada kolom dan menetes secara pelahan-lahan.
Uap
campuran akan terus terbentuk dan
bergerak ke arah bagian atas kolom. Ketika uap tersebut bertemu dengan tetesan
cairan, maka uap akan terkondensasi dan mentransfer energi panasnya pada
cairan. Energi panas ini dapat menyebabkan tetesan cairan mendidih, membentuk
uap baru. Uap yang baru terbentuk ini akan makin banyak pada cairan bertitik didih
rendah dibanding uap pada bagian awal. Uap baru ini akan bergerak ke atas dan
berkondensasi lagi. Proses ini berulang sehingga uap/cairan mengalir pada kolom
fraksi. Uap cairan yang keluar pada bagian atas kolom sebagain besar mengandung
cairan dengan titik didih rendah, kadang-kadang sampai 100%, tergantung panjang
kolom. Uap ini berkondensasi dan ditampung.
Gambar 5. Distilasi fraksi
Gambar 6. Distilasi uap dan distilasi vakum
A. Pembagian Destilasi
1. Distilasi
berdasarkan prosesnya terbagi menjadi dua, yaitu :
a.
Distilasi kontinyu
b.
Distilasi batch
2. Berdasarkan
basis tekanan operasinya terbagi menjadi tiga, yaitu :
a. Distilasi
atmosferis
b. Distilasi
vakum
c. Distilasi
tekanan
3. Berdasarkan
komponen penyusunnya terbagi menjadi dua, yaitu :
a. Destilasi
system biner
b. Destilasi
system multi komponen
4. Berdasarkan
system operasinya terbagi menjadi dua, yaitu :
a. Single-stage
Distillation
b. Multi
stage Distillation
Selain pembagian macam destilasi, dalam referensi lain menyebutkan macam
– macam destilasi, yaitu :
1. Destilasi
sederhana
2. Destilasi
bertingkat ( fraksional )
3. Destilasi
azeotrop
4. Destilasi
vakum
5. Refluks
/ destruksi
6. Destilasi
kering
BAB
III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1 Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum distilasi
kali ini adalah labu distilasi yang berfungsi tempat sampel pada saat distilasi
atau tempat residu,pendingin (kondensor) berfungsi sebagai tempat terjadinya
perubahan gas menjadi cair,selang plastik sebagai aliran air untuk
kondensor,klem penahan labu distilasi dan standar sebagai penyanggah alat
distilasi,gabus besar sebagai penutup labu,batu didih untuk mencegah terjadinya
bumping,termometer untuk pengukur suhu,buret 50 ml sebagai proses
titrasi,heating mantle sebagai pemanas,erlenmeyer 250 ml sebagai wadah untuk
titrasi,gelas piala sebagai wadah sementara dan corong sebagai penyalin cairan
atau zat.
III.2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah asam asetat
sebagai sampel,aquades sebagai pelarut dan sampel,asam oksalat sebagai larutan
standar primer untuk menstandarisasi NaOH,larutan NaOH 0,1 N untuk larutan
dalam proses titrasi dengan asam asetat dan indikator pp sebagai penunjuk warna
pada titik akhir titrasi.
III.3 Prosedur Kerja
Disapkan alat distilasi
dengan lengkap kemudian dipasang dengan benar,setelah itu dimasukkan sebanyak
10 ml asam asetat kedalam labu distilasi dan ditambahkan aquades sebanyak 50 ml
selanjutnya selanjutnya didihkan larutan tersebut dan ditampung hasil distilasi
(distilat) dengan erlenmeyer kira-kira 10 ml dicatat titik didih campuran saat
distilat 5 ml,kemudian diambil 1ml distilat dan ditambahkan indikator pp
selanjutnya dilakukan titrasi dngan larutan NaOH 0,1 N sampai titik
akhir,dilakukan hal yang sama untuk residu,ditentukan konsetrasi asam asetat
dalam labu sebelum dilakukan titrasi seperti diatas.
III.4 Skema Kerja


1 ml larutan awal


1 ml destiat


1 ml residu

lakukan titrasi dengan NaOH 0,1 N
Lalu tentukan masing-masing konsentrasi larutan dg titrasi(duplo)
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
Percobaan
|
Volume NaOH terpakai (ml)
|
||
Awal
|
destilat
|
residu
|
|
1
|
4,60 ml
|
4,90 ml
|
7,50 ml
|
2
|
4,80 ml
|
4,70 ml
|
7,6 ml
|
[asam]
|
2,16
|
2,208
|
3,473
|
X asam
|
0,043
|
0,0438
|
0,07318
|
X air
|
0,96
|
0,9561
|
0,9268
|
IV.2 Pembahasan
Pada percobaan ini kita menggunakan asam asetat sebagai sampel untuk pemisahan fraksi menggunakan
proses destilasi. Sebelum kita melakukan destilasi ada beberapa hal yang kita lakukan terlebih dahulu. Salah satunya yaitu kita harus merangkai alat destilasi dengan benar
agar proses destilasi dapat berjalan dengan baik setelah terpasang dengan baik, maka kita encerkan asam asetat
yang encer dengan aquades dengan perbandingan 1:5 dimanaasam 10 mL
danaquades 50mL. Dan kita lakukan standarisasi NaOH dengan asam oksalat untuk menentukan kosentrasidariNaOH, karena kita membutuhkan kosentrasi NaOH untuk mencari kosentrasi dari asam asetat.
Setelah kosentrasi NaOH didapatkan kita tentukan kosentrasi awal dari asam asetat sebelum
di lakukan destilasi.Kita
ambil 1 ml asam asetat kemudian kita masukan kedalam elemenyer dantambahakan indicator pp lalu kita lakukan titrasi dengan NaOH. Setelah volume NaOH kita dapatkan kemudian kita dapat menentukan berapa kosentrasi dari asam asetat dimana kosentrasinya adalah 2,16mol/L berserta fraksi asam
0,043dan fraksi
air 0,96
Kemudian kita lakukan destilasi dengan memanaskan labu destilasi dengan pemanas.Amati
suhu yang terjadi ketika tetesan pertama,
kedua dan suhu kostan.Destilasi dikatakan sudah selesai apabila suhu kostan telah terjadi yaitu ketika suhu tetap tiba-tiba terjadi perubahan suhu
yang tinggi.Dimana suhu tetesan pertama yaitu 100‘C dan suhu tetesan kedua adalah
106’C dan suhu kostannya yaitu
116’C.proses destilasi sudah dapat dikatakan sudah selesai.
Setelah destilasi selesai maka kita tentukan kosentrasi asam pada destilat dan residu.
Kita cari kosentrasi seperti cara mencari kosentrasi asam awal.
Dimana kosentrasi destilat didapatkan yaitu
2,208 mol/L dengan fraksi asam
0,0438 dan fraksi
air 0,9561
dan pada residu kita dapat menentukan kosentrasi asam yaitu 3,473 mol/L dengan fraksi asam,0,07318dan fraksi
air 0,9268.
Pada data diatas dapat dilihat bahwa kadar asam sebelum destilasi,
destilat dan residu tidak sama dimana kadar asam paling tinggi terdapat pada residu karena pada residu telah terjadi pemurnian zat karena kadar airnya sudah hilang ketika destilasi dilakukan.
Pada destilat masih terdapat kadar asam Karena menguapnya asam asetat diakibatkan suhu yang terjadi terlalu tinggi
yang mencapai suhu titik didih dari asam asetat yaitu
120’C sedangkan suhu asam asetat
118’C.
BAB V
PENUTUP
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Pada percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan, bahwa destilasi adalah suatu proses pemisahan zat berdasarkan tingkat kevolatilan zat atau berdasarkan titik didih,
dimana zat yang memiliki titik didih
yang rendah akan menguap lebih cepat dari pada zat yang titik didihnya yang tinggi.
Pada percobaan terbukti bahwa zat yang memiliki titik didih rendah akan menguap lebih dulu yaitu
air
dengan titik didih
100’C menguap lebih cepat dari pada asam asetat dengan titik didih
118’C.
Kosentrasi asam pada destilat lebih kecil dari residu karena asam asetat tidak menguap seperti
air, maka yang tertinggal pada labu destilasi hanyalah asam asetat.
V.2
Saran
Hati-hati dalam merangkai alat destilasi dan pastikan alat terpasang dengan benar
agar tidak terjadi kesalahan pada saat pratikum.Diharapkan ketika memperhatikan suhu tetesan pertama, kedua, dan suhu kostan harus teliti,
agar tidak terjadi kelewatan titik didih suhu
yang tinggi, karena dapat menguapkan kedua sampel dan destilasi bisa gagal.APD harus dilengkapi karena bahan
yang digunakan sangat berbahaya.
LAMPIRAN
Standarisasi Larutan Standar NaOH dengan Asam Oksalat

=1x0,1x63

= 6,3 g =1,0005 mol/L
V NaOH terpakai
= a. 4,60 ml rata-rata = 4,70 ml
b. 4,80 ml
b. 4,80 ml

1 ml
= 2,162 N
Mol CH3COOH = 2,162 N×1 ml
=2,162 mol
Gr CH3COOH = 2,162 mol×60 gr/mol
=129,72 gram
Gr air =1000gr-129,72 gr
=870,4 gr

18 gr/mol
=48,36 mol
N total =n air + n asam
=48,36 mol + 2,16 mol
=50,52 mol


N total 50,52 mol

50,52 mol
=0,96
2. Larutan destilat (1 ml)

2

2
Mol CH3COOH = 2,208 N × 1 ml
= 2,208 N
Gram CH3COOH = 2,208 N × 60 gr/mol
=132,48
gram
Gram air = 1000
gr-132,48 gr
= 867,52
gram

18 gr/mol
N total = 48,195 mol
+ 2,208 N
= 50,403
mol

50,403 mol

50,403 mol
3. Larutan Residu ( 1 ml )

2

1 ml
Mol CH3COOH = 3,473 N × 1 ml
= 3,473 mol
Gram Asam = 3,473 mol × 60
gr/mol
= 208,38
gram
Gram Air =1000 gr-208,38
gram
= 791,62
gram

18 gr/mol
=
43,9789 mol
N total = 43,9789 mol
+ 3,473 mol
= 47,4519 mol

47,4519 mol

47,4519
mol
DAFTAR
PUSTAKA
Modul Praktikum Kimia Fisika.2012.Laboratorium Proses Kimia.Politeknik ATI
Padang.
Underwood,A,L.2002.Analisi Kimia
Kuantitatif.Jakarta.Erlangga
Syukri.2007.Kimia Fisika.Jakarta.Erlangga
No comments:
Post a Comment
jangan lupa koment di kolom komentar ya !!!
saran, kritik,pertanyaan dan pendapat